PANGKALPINANG, KATABABEL.COM — Tidak banyak perjalanan hidup yang berawal dari ruang pengabdian sederhana, kemudian tumbuh menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat dan melahirkan sebuah inovasi yang mulai dilirik dari luar daerah.
Perjalanan itu dijalani M. Syarif Hidayatullah, atau yang akrab disapa Bang Arif.
Selama bertahun-tahun, Bang Arif dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat. Ia pernah mengabdi sebagai ustaz, menjalani berbagai usaha, hingga akhirnya mendedikasikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk pemberdayaan petani melalui Forum Masyarakat Petani Bangka Belitung (Formap Babel).
Formap Babel petama kali berdiri pada 2004 dan Almarhum Drs. H. Achmad Hudarni Rani sebagai ketua dewan pembina formap pertama kali selanjutnya Bang Arif ditunjuk dan dipercaya sebagai Ketua Umum. Dari 2008 Hingga 2026, hampir 18 tahun ia berada di garis depan organisasi yang bergerak dalam pemberdayaan petani, ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan dan kepedulian lingkungan.
Dari organisasi yang tumbuh dengan segala keterbatasan, kini Formap telah memiliki jaringan lebih dari 160 ribu anggota petani dan nelayan yang terdata dan tersebar di berbagai wilayah Bangka Belitung, Formap memiliki sekretariat cabang dari kota, kabupaten hingga desa.
Namun, perjalanan itu tidak dibangun dalam sehari. Berawal dari Sekretariat Kecil Pada masa awal, aktivitas Formap dijalankan dari sebuah sekretariat kecil di kawasan Jalan Lintas Timur, Tempat sederhana tersebut menjadi saksi bagaimana Bang Arif bersama masyarakat membangun organisasi dari bawah.
Seiring aktivitas yang semakin berkembang, sekretariat Formap kemudian berpindah ke Kampak, sebelum kembali berkembang dan menempati ruko di kawasan Lintas Timur.
Perjalanan itu akhirnya membawa Formap ke babak baru. Kini, organisasi tersebut memiliki tempat produksi yang jauh lebih luas di kawasan Jembatan Emas.
Perubahan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat, Ia menjadi gambaran perjalanan sebuah organisasi yang tumbuh perlahan—dari ruang sederhana, berpindah-pindah, hingga akhirnya memiliki fasilitas yang lebih luas untuk menunjang kegiatan produksi dan pemberdayaan masyarakat. Tempatnya berubah, aktivitasnya berkembang, tetapi semangat pengabdiannya tetap sama.
Sebelum dan selama aktif di Formap, Bang Arif juga memiliki pengalaman di berbagai bidang usaha. Ia pernah menjalani usaha penggilingan kopi, warung kopi, pengolahan minyak gelugut, serta berbagai aktivitas bisnis lainnya. Pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya kemandirian ekonomi dan kemampuan masyarakat dalam menciptakan nilai tambah dari potensi yang ada di sekitar mereka.
Sementara pengalaman pernah mengabdi sebagai ustaz membuat Bang Arif terbiasa berinteraksi langsung dengan berbagai lapisan masyarakat. Dua pengalaman tersebut kemudian bertemu dalam perjalanan panjangnya bersama Formap.
Baginya, pemberdayaan masyarakat bukan hanya soal bantuan, tetapi bagaimana masyarakat mampu berdiri, berkembang dan mengelola potensi yang dimiliki.
Salah satu karya paling menonjol dari perjalanan Sang Profesor Bang Arif bersama Formap adalah pengembangan PUFA atau Pupuk FABA.

PUFA dikembangkan dengan memanfaatkan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari hasil pembakaran boiler PLTU, yang kemudian diolah untuk dimanfaatkan dalam sektor pertanian. Inovasi tersebut lahir dari cara pandang sederhana namun memiliki dampak luas: persoalan lingkungan dapat dicari nilai manfaatnya.
FABA yang selama ini merupakan material sisa kemudian dikembangkan menjadi bahan untuk mendukung pertanian.
PUFA diarahkan sebagai pembenah tanah dan pendukung penyediaan unsur hara, sehingga dapat dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan kualitas tanah dan mendukung produktivitas pertanian.
Pengembangan PUFA telah berlangsung sekitar lima tahun. Lima tahun perjalanan itu kini mulai menunjukkan hasil. Jika pada awalnya masih berupa proses pengembangan dan pengenalan, kini permintaan produksi PUFA telah mencapai hampir 2 sampai 5 ton per hari. Angka tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan inovasi Formap Babel.
Perkembangan PUFA tidak berhenti di Bangka Belitung. Inovasi tersebut kini mulai dilirik oleh pihak dari luar daerah. Ketertarikan tersebut membuka peluang bahwa inovasi yang lahir dari masyarakat Babel dapat dikembangkan lebih luas.
Bagi Bang Arif, perhatian tersebut menjadi motivasi sekaligus tantangan. Kapasitas produksi harus terus ditingkatkan, kualitas harus dijaga dan keberlanjutan pemanfaatan FABA perlu terus dikembangkan. Dengan tempat produksi yang kini jauh lebih luas di kawasan Jembatan Emas, Formap memiliki ruang yang lebih memadai untuk mendukung perkembangan PUFA.
PUFA tidak hanya dikembangkan sebagai produk, tetapi juga dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui penyaluran PUFA gratis kepada petani di Desa.
Jaringan Formap yang kini mencapai lebih dari 8.000 anggota menjadi modal sosial yang besar untuk memperluas pemanfaatan inovasi pertanian tersebut.
Semangatnya adalah menjadikan petani bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem inovasi dan kemandirian pangan.
Jejak pengabdian Bang Arif juga tidak terlepas dari sinergi bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Formap dan Bang Arif membangun kebersamaan dengan jajaran TNI dalam berbagai kegiatan yang melibatkan petani dan masyarakat.
Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama memperkuat ketahanan pangan dari tingkat masyarakat.
Pertanian, menurut semangat yang dibangun Formap, bukan hanya persoalan produksi. Di dalamnya terdapat kepentingan yang lebih besar, yakni kemandirian masyarakat dan ketahanan pangan daerah.
Kebersamaan TNI, Formap dan masyarakat petani menjadi salah satu jejak rekam yang memperlihatkan bagaimana ketahanan pangan dapat dibangun melalui kolaborasi.
Dalam pengembangan pemanfaatan FABA, Formap juga membangun kolaborasi dengan PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan FABA untuk pertanian sekaligus mendukung ekonomi lokal.
Formap juga aktif bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemberdayaan petani, pembagian pupuk, hingga kegiatan lingkungan. Salah satunya melalui kegiatan penghijauan bersama Pemerintah Kota Pangkalpinang di Hutan Kota Tuatunu.
Hampir 18 tahun perjalanan Formap membuat organisasi ini berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai wadah berhimpun masyarakat petani. Formap menjadi ruang edukasi, pemberdayaan ekonomi, pengembangan usaha, advokasi petani, kegiatan lingkungan dan inovasi.
Program yang dikembangkan mencakup edukasi pembibitan, teknik penanaman, pengolahan hasil panen, pemanfaatan lahan, pemberdayaan UMKM hingga ketahanan pangan. Dengan lebih dari 8.000 anggota terdata, Formap memiliki jaringan masyarakat yang cukup luas untuk menjalankan berbagai program tersebut.
Perjalanan Bang Arif bersama Formap merupakan cerita tentang proses panjang. Dari sekretariat kecil di Jalan Lintas Timur, berpindah ke Kampak, kemudian menempati ruko di Lintas Timur, hingga akhirnya memiliki tempat produksi luas di kawasan Jembatan Emas. Dari organisasi yang berdiri pada 2008 hingga memiliki lebih dari 8.000 anggota terdata.
Dari pengalaman sebagai ustaz dan pengusaha hingga menjadi penggerak petani. Dari kebersamaan dengan masyarakat hingga membangun sinergi dengan TNI, pemerintah daerah dan PLN.
Dan dari persoalan limbah hingga melahirkan PUFA yang setelah lima tahun pengembangan kini memiliki permintaan hampir mencapai 5 ton per hari. Semua itu menjadi bagian dari rekam jejak M. Syarif Hidayatullah atau Bang Arif.
Kini, kawasan Jembatan Emas menjadi saksi babak baru perjalanan Formap Babel. Tempat produksi yang lebih luas menjadi simbol bahwa sesuatu yang dibangun dari keterbatasan dapat berkembang apabila dijalankan dengan konsistensi.
Tidak lagi hanya berbicara mengenai pemanfaatan limbah, tetapi juga tentang inovasi, pertanian, lingkungan, ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Perjalanan Bang Arif sejak era Drs. H. Achmad Hudarni Rani sebagai gubernur definitif pertama Babel, pengabdiannya sebagai ustaz, pengalaman di dunia usaha, hingga hampir 18 tahun memimpin Formap, memperlihatkan satu benang merah: pengabdian kepada masyarakat melalui apa yang bisa dilakukan dan dikembangkan dari potensi lokal.
Kini tantangan berikutnya adalah membawa inovasi tersebut ke tingkat yang lebih luas. Sebab bagi Bang Arif, keberhasilan bukan semata ketika sebuah produk berhasil diproduksi. Keberhasilan adalah ketika limbah bisa menjadi manfaat, petani mendapatkan peluang, masyarakat ikut bergerak, lingkungan tetap diperhatikan dan inovasi lokal mampu berdiri dengan kemampuan sendiri.
Dari sekretariat kecil hingga tempat produksi di Jembatan Emas. Dari pengabdian sebagai ustaz hingga penggerak petani. Dari FABA menjadi PUFA. Dari Babel, untuk membuka peluang yang lebih luas.
Penulis : Sandi Kharisma




