Scroll Untuk Baca Berita
banner 728x90
banner 728x90
Pemkot Pangkalpinang

Menanggalkan Curiga: Mengapa “Kita” Lebih Penting daripada “Aku” di Tengah Ketidakpastian Berbangsa dan Bernegara

39
×

Menanggalkan Curiga: Mengapa “Kita” Lebih Penting daripada “Aku” di Tengah Ketidakpastian Berbangsa dan Bernegara

Sebarkan artikel ini
Foto : Areng Permana, CEO Walikopi Networking.

PANGKALPINANG, KATABABEL.COM – Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks, masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan besar berupa meningkatnya rasa saling curiga antar kelompok. Fenomena ini semakin terlihat di berbagai ruang publik, mulai dari media sosial hingga percakapan sehari-hari, yang kerap dipenuhi narasi pemisah antara “kawan” dan “lawan” dibandingkan semangat untuk membangun masa depan bersama.

Direktur Eksekutif Walikopi Networking, Areng Permana, menilai kondisi tersebut menjadi salah satu ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, ketidakpastian yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan telah mendorong masyarakat untuk lebih fokus pada kepentingan kelompok masing-masing dibandingkan kepentingan bersama.

Dalam kajian sosiologi, fenomena ini pernah dijelaskan oleh sosiolog Amerika, Robert Putnam, melalui konsep Modal Sosial (Social Capital). Putnam menegaskan bahwa masyarakat yang sehat membutuhkan kemampuan membangun jembatan kepercayaan antar kelompok yang berbeda atau yang dikenal sebagai bridging social capital.

“Ketika ketidakpastian meningkat, masyarakat cenderung menarik diri ke lingkungan yang dianggap sama dan aman. Akibatnya, ruang dialog antar kelompok semakin menyempit dan rasa saling percaya perlahan terkikis,” ujar Areng dalam tulisannya.

Ia menjelaskan bahwa tanpa adanya jembatan kepercayaan yang melintasi perbedaan identitas, bangsa akan kehilangan perekat sosial yang selama ini menjaga persatuan. Masyarakat berpotensi berubah menjadi kumpulan individu yang hidup dalam kecurigaan, bukan komunitas yang saling mendukung dan menguatkan.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Teori Identitas Sosial (Social Identity Theory) yang dikembangkan psikolog Henri Tajfel. Teori ini menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung mengelompokkan diri ke dalam kelompok tertentu (in-group) dan memandang kelompok lain sebagai pihak luar (out-group).

Menurut Areng, dalam situasi yang penuh ketidakpastian, kecenderungan tersebut semakin menguat. Masyarakat menjadi lebih mudah menerima narasi yang memuliakan kelompok sendiri sekaligus merendahkan kelompok lain. Kondisi inilah yang kemudian memicu lahirnya berbagai prasangka dan polarisasi sosial.

“Memahami teori-teori tersebut membuat kita sadar bahwa rasa curiga bukanlah takdir atau karakter bawaan manusia. Ia merupakan respons psikologis terhadap rasa takut dan ketidakpastian yang sedang dihadapi,” katanya.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mulai membangun kembali kepercayaan sosial yang sempat terkikis. Salah satu caranya adalah dengan keluar dari ruang gema (echo chamber) yang hanya mempertemukan seseorang dengan pandangan yang sejalan dengannya.

Areng menekankan pentingnya membangun dialog yang membumi dan terbuka dengan berbagai kelompok masyarakat. Melalui dialog, masyarakat dapat belajar melihat seseorang bukan berdasarkan label identitasnya, melainkan sebagai sesama warga bangsa yang memiliki tujuan dan harapan yang sama.

“Bangsa ini tidak akan hancur karena perbedaan pendapat. Namun bangsa bisa karam ketika rasa percaya satu sama lain hilang. Mengelola ketidakpastian bukan berarti harus selalu sepakat, tetapi memiliki komitmen untuk tetap berdiri di atas tanah yang sama meski memiliki pandangan berbeda,” tegasnya.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, Areng meyakini bahwa solidaritas sosial tetap menjadi jangkar paling kokoh untuk menjaga persatuan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mulai menanggalkan prasangka, memperkuat dialog, dan membangun kembali semangat kebersamaan.”Sebab di dunia yang penuh ketidakpastian ini, hanya solidaritas yang mampu menjaga kita tetap kuat sebagai satu bangsa,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *