Scroll Untuk Baca Berita
banner 728x90
banner 728x90
BeritaDaerah

Demokrasi atau Aklamasi? Musprov III SMSI Babel Masuki Babak Penentuan

63
×

Demokrasi atau Aklamasi? Musprov III SMSI Babel Masuki Babak Penentuan

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, KATABABEL.COM – Peta pertarungan menjelang Musyawarah Provinsi (Musprov) III Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin menarik untuk dicermati. Isu aklamasi yang sempat berembus kencang dan digadang-gadang menjadi skenario utama dalam pemilihan Ketua SMSI Babel periode 2026–2031 kini mulai menghadapi tantangan serius.

Hingga menjelang pelaksanaan Musprov, pintu pencalonan masih terbuka. Kondisi tersebut membuat peluang munculnya kandidat baru masih sangat mungkin terjadi. Jika itu terjadi, maka skenario calon tunggal yang sebelumnya dianggap hampir pasti berpotensi berubah total menjadi pertarungan terbuka melalui mekanisme pemungutan suara.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua SMSI Babel, Herman Suherman atau yang akrab disapa Mang Herman, menegaskan bahwa proses pencalonan tetap berjalan sesuai aturan organisasi dan kesempatan terbuka bagi seluruh anggota yang memenuhi syarat.

“Pendaftaran calon ketua tetap dibuka sampai batas waktu yang ditentukan. Semua anggota yang memenuhi persyaratan memiliki hak yang sama untuk maju. Kita ingin seluruh proses berjalan sesuai aturan organisasi,” tegas Mang Herman saat rapat panitia musprov SMSI Babel di salah satu warkop di pangkalpinang, Jum’at Malam 5/6/2026.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa tidak ada ruang untuk menutup peluang kader lain yang ingin maju dalam kontestasi kepemimpinan SMSI Babel.

Di sisi lain, dinamika internal organisasi belakangan menunjukkan adanya keinginan kuat dari para pemilik suara agar Musprov berjalan sesuai koridor Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta tata tertib yang akan disahkan dalam forum persidangan.

Berdasarkan informasi, sebanyak 21 anggota pemilik hak suara sah akan menjadi penentu arah organisasi lima tahun mendatang. Jumlah tersebut tertuang dalam Surat Keputusan terakhir SMSI Babel dan merupakan kekuatan utama dalam Musprov yang akan menentukan siapa figur yang layak menakhodai SMSI Babel hingga 2031.

Menariknya, sebagian pemilik suara disebut menghendaki agar proses pemilihan tidak diarahkan pada skenario yang terkesan sudah ditentukan sejak awal. Mereka menginginkan seluruh tahapan berjalan terbuka, demokratis, dan memberikan ruang yang sama bagi siapa pun yang memenuhi syarat untuk maju sebagai calon ketua.

Isu aklamasi yang sebelumnya berembus pelan kini bahkan disebut mulai kehilangan momentum. Dalam sejumlah pembahasan internal menjelang Musprov, muncul pandangan bahwa ketua organisasi sekelas SMSI Babel harus lahir dari proses yang memiliki legitimasi kuat dan mendapatkan mandat yang jelas dari anggota.

Bagi sebagian anggota, aklamasi bukanlah persoalan selama memang hanya ada satu calon yang memenuhi syarat. Namun jika terdapat kandidat lain yang memenuhi ketentuan organisasi dan mendapat dukungan anggota, maka mekanisme pemilihan dianggap sebagai jalan yang paling sesuai dengan semangat demokrasi organisasi.

Situasi tersebut membuat pembahasan mengenai tata tertib Musprov menjadi semakin penting. Sejumlah peserta rapat persiapan bahkan disebut meminta agar seluruh aturan teknis dibahas secara rinci guna mengantisipasi kemungkinan munculnya lebih dari satu kandidat.

Apabila hingga penutupan pendaftaran terdapat lebih dari satu calon yang lolos verifikasi, maka seluruh skenario sidang yang sebelumnya mengarah pada pengesahan calon tunggal melalui aklamasi otomatis harus berubah menjadi pemilihan langsung.

Artinya, panitia pelaksana dan steering committee dituntut bekerja lebih ekstra untuk menyiapkan seluruh perangkat persidangan. Mulai dari verifikasi administrasi calon, penetapan daftar pemilih, mekanisme kampanye visi-misi, tata cara pemungutan suara, hingga proses penghitungan suara harus disusun secara transparan dan akuntabel.

Pengamat organisasi menilai kondisi ini justru menunjukkan bahwa SMSI Babel sedang memasuki fase demokrasi yang sehat. Perbedaan pandangan terkait aklamasi maupun pemilihan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari dinamika organisasi yang wajar selama tetap berada dalam koridor aturan.

Yang menjadi perhatian saat ini adalah bagaimana seluruh pihak dapat menjaga suasana tetap kondusif serta menjadikan Musprov sebagai forum konsolidasi organisasi, bukan ajang perpecahan.

Sebab, tantangan yang dihadapi SMSI Babel ke depan tidaklah ringan. Organisasi yang menaungi perusahaan media siber ini dituntut mampu memperkuat profesionalisme pers, meningkatkan kualitas perusahaan media anggota, sekaligus menjaga independensi organisasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan perubahan ekosistem media digital.

Karena itu, figur yang terpilih nantinya tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memimpin organisasi, tetapi juga mampu merangkul seluruh anggota, menyatukan berbagai kepentingan, serta membawa SMSI Babel menjadi organisasi yang semakin solid, profesional, dan berdaya saing.Kini seluruh perhatian tertuju pada hari pelaksanaan Musprov III SMSI Babel.

Apakah aklamasi tetap menjadi pilihan akhir, atau justru lahir pertarungan demokratis yang melibatkan 21 pemilik suara?Jawabannya akan ditentukan dalam forum Musprov.

Namun satu hal yang pasti, mayoritas anggota berharap nahkoda baru SMSI Babel lahir dari proses yang bersih, terbuka, dan sepenuhnya mengacu pada AD/ART serta tata tertib organisasi.

Sebab bagi banyak anggota, yang terpenting bukan sekadar siapa yang menang, melainkan bagaimana proses demokrasi organisasi dijalankan dengan baik sehingga menghasilkan kepemimpinan yang kuat, sah, dan mendapat kepercayaan penuh dari seluruh anggota SMSI Babel.(San)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *