banner 1028x250

Eks Tambang Timah 30 Hektare Disulap Jadi Wisata Hijau, Green Hauz Cafe Tawarkan Sunset Hingga Rencana Driving Golf

Sandi Kharisma
10 Okt 2026 16:56
4 menit membaca
Spread the love

BANGKA, KATABABEL.COM – Lahan bekas tambang timah tak selamanya identik dengan kerusakan lingkungan dan hamparan tanah gersang. Di Desa Kace Timur, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, kawasan eks tambang seluas sekitar 30 hektare mulai disulap menjadi destinasi wisata bernuansa alam dengan hamparan rumput hijau, panorama matahari terbenam, dan kafe sebagai daya tarik baru bagi masyarakat.

Destinasi yang mengusung konsep Rumput Hijau dan Green Hauz Cafe ini menjadi salah satu upaya pemanfaatan lahan pascatambang untuk menghadirkan ruang rekreasi terbuka. Dari total lahan yang tersedia, sekitar 14 hektare telah ditata dan dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kawasan wisata tersebut.

Pengelola Rumput Hijau dan Green Hauz Cafe, Zili, mengatakan gagasan pengembangan kawasan ini berawal dari inisiatif pemilik lahan untuk mengubah area bekas galian timah menjadi destinasi wisata dengan konsep hamparan rumput hijau.

“ Sebenarnya ini area eks tambang timah. Pemilik kawasan berinisiatif mengubah bekas lahan tambang ini menjadi objek wisata berkonsep hamparan rumput hijau,” ujar Zili saat ditemui di lokasi, Sabtu (10/10/2026).

banner 1028x250

Kehadiran destinasi ini diharapkan dapat memberikan wajah baru bagi kawasan pascatambang sekaligus membuka peluang pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Bangka.

Salah satu daya tarik utama kawasan Rumput Hijau adalah panorama matahari terbenam atau sunset yang dapat dinikmati pengunjung pada sore hari. Rentang waktu sekitar pukul 16.00 hingga 17.30 WIB menjadi momen favorit untuk menikmati suasana terbuka dengan hamparan rumput hijau.

Selain menawarkan pemandangan alam, kawasan ini juga menghadirkan Green Hauz Cafe yang baru resmi beroperasi. Fasilitas tersebut menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati makanan dan minuman di tengah suasana alam.

Keunikan lainnya, kawasan ini masih mempertahankan area peternakan kerbau milik pengelola sebelumnya. Keberadaan peternakan tersebut memberikan nuansa berbeda sekaligus menjadi bagian dari karakter kawasan yang dikembangkan sebagai destinasi rekreasi.

Untuk mendukung kenyamanan pengunjung, pengelola membagi jam operasional sesuai fasilitas. Area Rumput Hijau dibuka sejak pagi hingga pukul 18.00 WIB, sedangkan Green Hauz Cafe melayani pengunjung mulai pukul 11.00 hingga 21.00 WIB.

Dari sisi aksesibilitas, pengelola menerapkan kebijakan khusus bagi masyarakat sekitar. Warga Desa Kace Timur dan Kecamatan Mendo Barat dapat memasuki kawasan tanpa dipungut biaya masuk.

Sementara itu, pengunjung dari luar wilayah tersebut dikenakan biaya berdasarkan kendaraan, yakni Rp10.000 untuk sepeda motor dan Rp20.000 untuk mobil.

Zili menjelaskan, pungutan tersebut bukan dihitung per orang, melainkan per kendaraan. Pengunjung juga memperoleh voucher yang dapat ditukarkan dengan makanan atau minuman di minimarket yang berada di kawasan wisata.

“Retribusi ini dihitung per kendaraan, bukan per orang. Tiket masuk tersebut berupa voucher yang dapat ditukarkan langsung dengan makanan atau minuman di minimarket kawasan wisata,” jelasnya.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu cara pengelola memberikan akses rekreasi kepada masyarakat sekaligus menghadirkan manfaat langsung bagi pengunjung.

Pengembangan Rumput Hijau dan Green Hauz Cafe tidak berhenti pada hamparan rumput dan fasilitas kuliner. Pengelola telah merencanakan penambahan sejumlah fasilitas untuk memperluas daya tarik kawasan.

Dua konsep yang tengah direncanakan adalah area driving golf dan lokasi pernikahan terbuka atau outdoor wedding venue dengan latar alam.

Jika terealisasi, fasilitas tersebut berpotensi memperluas segmen pengunjung, mulai dari masyarakat yang mencari tempat bersantai, pencinta olahraga, hingga keluarga yang membutuhkan lokasi untuk menggelar acara.

Meski demikian, pengembangan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan aspek operasional kawasan.

Untuk saat ini, fasilitas berkemah atau camping belum dapat disediakan. Pengelola menyebut keterbatasan sistem pengamanan serta kebutuhan perizinan menjadi pertimbangan, mengingat luasnya area yang harus dikelola.

Di balik potensi wisata yang ditawarkan, pengelola berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, pemerintah desa, dan organisasi perangkat daerah terkait, terutama dalam proses administrasi serta perizinan.

Menurut Zili, sinergi dengan pemerintah diperlukan agar pengelolaan kawasan dapat berjalan sesuai ketentuan sekaligus memberikan dampak positif bagi daerah.

“Harapan kami kepada pemerintah daerah maupun pemerintah desa setempat adalah dukungan penuh. Jangan sampai proses perizinan dan administratif dipersulit, karena keberadaan wisata ini bertujuan membawa dampak positif bagi daerah,” tuturnya.

Pengembangan kawasan eks tambang menjadi destinasi wisata seperti Rumput Hijau dan Green Hauz Cafe membuka peluang pemanfaatan lahan untuk kegiatan ekonomi baru. Namun, keberlanjutan destinasi tersebut juga memerlukan pengelolaan lingkungan, pemenuhan perizinan, dan kesiapan fasilitas yang memadai.

Dengan hamparan rumput hijau, panorama sunset, serta rencana pengembangan fasilitas rekreasi, kawasan di Kace Timur ini berpotensi menjadi alternatif tujuan wisata bagi masyarakat Bangka Belitung.

Ke depan, sinergi antara pengelola, pemerintah, dan masyarakat akan menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan kawasan berjalan tertib, aman, serta memberi manfaat bagi lingkungan dan perekonomian setempat.

(SMSI BANGKA)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *