PANGKALPINANG, KATABABEL.COM – Komisi XII DPR RI mendorong pengembangan dan pemanfaatan limbah fly ash (abu terbang) dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai salah satu bahan campuran pupuk organik. Inovasi tersebut dinilai berpotensi mendukung pengelolaan sampah sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dorongan itu disampaikan Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi pupuk organik yang dikembangkan Forum Masyarakat Petani (Formap) Bangka Belitung, Kamis (13/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Bambang melihat langsung proses produksi pupuk yang memanfaatkan bahan organik dan campuran fly ash dari limbah PLTU. Ia menilai inovasi yang telah dikembangkan selama lebih dari lima tahun tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan secara lebih luas.

“Ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi titik pemicu pengembangan pupuk organik yang mencampurkan fly ash dari limbah PLTU,” kata Bambang dalam sambutannya.

Menurut dia, hasil produksi pupuk yang telah dikembangkan Formap Babel menunjukkan perkembangan positif. Dengan sejumlah penyempurnaan, produk tersebut dinilai berpeluang diproduksi secara massal dan dimanfaatkan oleh petani.Bambang menilai salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bentuk produk. Pupuk yang diproduksi dalam bentuk granul dinilai akan lebih mudah diaplikasikan oleh petani karena dapat ditaburkan seperti pupuk pada umumnya.

“Barang ini kalau sudah dipasarkan lima tahun lebih, menurut saya bagus. Tinggal memberikan sentuhan saja. Kalau mau dioptimalkan dan diproduksi secara massal, tentu harus memenuhi beberapa standar,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya aspek standardisasi dan legalitas sebelum produk dipasarkan secara lebih luas. Menurutnya, apabila pupuk tersebut telah mengalami perubahan bentuk dan diproduksi untuk diedarkan, aspek standar produk, termasuk kemungkinan pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan izin edar, perlu dipersiapkan.

Bambang juga melihat pemanfaatan fly ash sebagai bahan campuran pupuk dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan program pengelolaan limbah dengan sektor pertanian.Ia mendorong PLN untuk terus mendukung inovasi tersebut sehingga dapat menjadi contoh pemanfaatan limbah PLTU yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Judul besarnya adalah PLN mendukung program ketahanan pangan. Ini jangan ragu-ragu untuk kita dorong,” katanya.

Bambang mengatakan, inovasi Formap Babel juga berpotensi direplikasi di daerah lain yang memiliki fasilitas PLTU. Pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan masyarakat Bangka Belitung dinilai dapat menjadi model bagi komunitas di sekitar PLTU lainnya.

“Kalau ini bisa dikembangkan di tempat lain, silakan. Pengetahuan ini bisa ditularkan kepada komunitas masyarakat di sekitar PLTU yang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Formap Babel M. Syarif Hidayatullah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pengembangan pupuk organik tersebut. Ia menyebut dukungan dari PLN dan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mendorong inovasi yang dikembangkan untuk kepentingan petani.

Syarif berharap sinergi antara Formap Babel, PLN, masyarakat petani dan pihak terkait dapat terus diperkuat sehingga produktivitas pupuk yang dihasilkan semakin meningkat.”Kami ingin meningkatkan produktivitasnya agar petani di Bangka Belitung benar-benar bisa merasakan manfaatnya,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan pupuk organik tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan produk yang bermanfaat bagi petani, tetapi juga menjadi bagian dari solusi pengelolaan limbah sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Bambang juga mengapresiasi keterlibatan pemerintah dan jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Menurutnya, pengembangan pupuk dari bahan limbah merupakan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi harus diarahkan pada pemanfaatan yang memberikan nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah di Bangka Belitung yang dapat dikembangkan menjadi program lebih besar di tingkat nasional.

“Ini bisa menjadi satu sampel bahwa pengolahan sampah di Bangka Belitung sudah berjalan dan didukung PLN,” ujarnya.

Kunjungan kerja tersebut kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung fasilitas produksi untuk melihat proses pengolahan bahan dan produksi pupuk organik yang dikembangkan Formap Babel.

Pengembangan inovasi tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara sektor energi, lingkungan dan pertanian, sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna bagi masyarakat dan mendukung ketahanan pangan.

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *