PANGKALPINANG, KATABABEL.COM – Penguatan ekosistem halal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus didorong melalui kegiatan Halal Business Connect dengan tema “Connecting the Halal Ecosystem”.
Kegiatan tersebut digelar di Ruang Pasir Padi Lantai 3 Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (10/9/2026), dan diikuti para pelaku usaha serta sejumlah pemangku kepentingan terkait pengembangan industri halal.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ketua MUI Bangka Belitung, Direktur LPPOM Bangka Belitung, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, serta perwakilan Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Direktur Utama LPPOM, Ir. Muti Arintawati, M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa sertifikasi halal tidak semestinya hanya dipandang sebagai pemenuhan kewajiban regulasi.
Menurutnya, perjalanan sertifikasi halal di Indonesia telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya bersifat sukarela, regulasi melalui Undang-Undang Jaminan Produk Halal kemudian menjadikan kewajiban sertifikasi halal sebagai bagian penting dalam tata kelola produk.
“Halal tidak sekadar berbicara tentang selembar kertas. Jangan sampai setelah mendapatkan sertifikat halal kemudian merasa sudah selesai dan hanya mengejar target jumlah,” ujar Muti.
Ia menegaskan, sertifikasi halal seharusnya memberikan manfaat yang lebih luas bagi pelaku usaha, khususnya UMKM. Dengan proses pendampingan yang tepat, pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi, naik kelas, serta memperluas akses pasar.
“Harapannya bukan hanya pasar lokal, tetapi produk dari Bangka Belitung bisa masuk ke pasar nasional bahkan internasional,” katanya.
Muti juga menyoroti besarnya potensi sektor perikanan di Bangka Belitung. Menurutnya, kekayaan hasil kelautan dan perikanan daerah dapat menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan industri halal apabila dikelola dengan standar kualitas dan jaminan halal yang baik.
Untuk itu, diperlukan sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, lembaga sertifikasi, sektor perbankan, hingga institusi yang berkaitan dengan produksi dan pemasaran.
“Ekosistem halal adalah kumpulan semua pihak yang saling mendukung perkembangan halal di provinsi ini,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan pemaparan dari sejumlah narasumber mengenai kualitas produksi, produk hasil kelautan dan perikanan, hingga dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha.
Kehadiran Bank Indonesia juga diharapkan dapat membuka wawasan pelaku UMKM mengenai dukungan pembiayaan dan strategi pengembangan usaha agar mampu naik kelas.
Selain sesi berbagi pengetahuan, Halal Business Connect juga menghadirkan sesi business matching. Forum ini memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring, serta membuka peluang kerja sama bisnis.
Muti berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan kolaborasi nyata antar-pelaku usaha.
“Mudah-mudahan ada hasil positif dan ada yang berjodoh untuk bisa berlanjut pada bisnis yang lebih luas lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Drs.Tarmin, mengatakan konsep halal memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan persoalan keagamaan semata.
Ia menyebut industri halal juga berkaitan dengan aspek ekonomi, sosial, kesehatan, kualitas produk, pemberdayaan masyarakat, hingga daya tahan ekonomi daerah.
Menurutnya, Bangka Belitung memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi halal, mulai dari kuliner dan makanan-minuman, pariwisata ramah muslim, fesyen muslim, kosmetik halal, hingga jasa keuangan syariah.
“Konsep halal bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi, sosial, kesehatan, kualitas produk, pemberdayaan dan daya tahan daerah,” kata Tarmin.
Ia meminta para peserta mengikuti kegiatan tersebut secara serius agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam pengembangan usaha maupun pelaksanaan tugas masing-masing.
Tarmin juga berharap para narasumber dapat memberikan pengetahuan secara menyeluruh kepada peserta sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memahami konsep maupun implementasi ekosistem halal.
“Harapan kami para peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan serius, sehingga apa yang disampaikan narasumber dapat diterima dan melahirkan ide-ide untuk dikomunikasikan serta diterapkan,” ujarnya.
Melalui Halal Business Connect, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama para pemangku kepentingan berharap produk-produk unggulan daerah, khususnya sektor pangan dan hasil perikanan, dapat semakin berkembang, memiliki daya saing, serta mampu menembus pasar yang lebih luas.
Penguatan ekosistem halal pun diharapkan menjadi salah satu strategi untuk menjadikan produk Bangka Belitung tidak hanya dikenal di tingkat daerah, tetapi juga menjadi bagian dari produk nasional yang mampu bersaing di pasar global.(San)











