banner 1028x250

Pemkot Pangkalpinang Gali Sejarah Kepemimpinan Daerah Melalui Lomba Menulis Biografi Wali Kota

Sandi Kharisma
24 Sep 2026 15:29
3 menit membaca
Bagikan

PANGKALPINANG, KATABABEL.COM — Pemerintah Kota Pangkalpinang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) terus mendorong upaya pelestarian dan penguatan literasi sejarah daerah. Salah satunya dilakukan melalui Lomba Menulis Biografi Wali Kota Pangkalpinang yang mengangkat perjalanan para tokoh yang pernah memimpin Kota Pangkalpinang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk menggali, mendokumentasikan, sekaligus memperkenalkan kembali sejarah kepemimpinan daerah kepada masyarakat dan generasi muda.

Pada pelaksanaan episode pertama, lomba secara khusus mengangkat delapan tokoh yang memimpin Pangkalpinang pada periode 1956 hingga 1978. Kedelapan tokoh tersebut yakni Raden Supardi Suwarjo, Raden Abdullah, Ahmad Basirun, Raden Hundani, Rustam Effendi, H. Masdan, M. Saleh Zainuddin, dan Roesli Romli.

Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Kota Pangkalpinang, Ratna Purnama Sari, mengatakan kegiatan tersebut digelar karena masih terbatasnya informasi dan dokumentasi mengenai sejumlah tokoh yang pernah memimpin Pangkalpinang, khususnya pada periode tersebut.

banner 1028x250

“Episode pertama ini sengaja kami mulai dari delapan tokoh kepemimpinan periode 1956 sampai 1978,” ujar Ratna, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, lomba dengan tema “Menelusuri Sejarah Kepemimpinan Walikota Pangkalpinang dari Masa ke Masa” diharapkan dapat menjadi sarana kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pegiat sejarah dalam melengkapi dokumentasi sejarah daerah.

Terlebih, proses penelusuran sejarah menghadapi tantangan berupa keterbatasan arsip dan dokumentasi lama. Karena itu, karya para peserta diharapkan dapat membantu pemerintah menghimpun informasi mengenai perjalanan para pemimpin daerah yang belum terdokumentasikan secara utuh.

“Melalui karya tulis ini, peserta secara tidak langsung membantu pemerintah melengkapi data sejarah yang selama ini sulit didapatkan,” katanya.

Dalam lomba tersebut, peserta tidak hanya diminta menulis riwayat hidup tokoh. Penulisan diarahkan untuk menggali perjalanan tokoh secara lebih mendalam, mulai dari masa kecil, keluarga, pendidikan, perjalanan sebelum menjadi pemimpin, masa kepemimpinan, tokoh yang berpengaruh, karakter kepemimpinan, hingga kehidupan setelah tidak lagi menjabat.

Peserta juga diwajibkan melakukan wawancara dengan narasumber yang mengetahui perjalanan kehidupan dan kepemimpinan tokoh yang ditulis.

Ratna menjelaskan, hasil lomba nantinya diharapkan tidak berhenti sebagai karya kompetisi. Tulisan yang dinilai layak akan diarahkan menjadi bagian dari dokumentasi sejarah daerah sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai bahan literasi dan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

“Perlombaan ini juga bersifat berkelanjutan. Setelah episode pertama, nantinya akan dilanjutkan dengan periode kepemimpinan berikutnya,” jelasnya.

Adapun peserta diwajibkan menyusun naskah minimal 50 halaman dengan menggunakan kertas A4 dan huruf Arial ukuran 12. Naskah ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sumber penulisan dapat berasal dari wawancara, media massa, kliping, maupun dokumen resmi negara. Dalam ketentuan lomba, peserta juga tidak diperbolehkan menggunakan kecerdasan buatan atau AI dalam penyusunan naskah.

Lomba terbuka bagi masyarakat, akademisi, maupun pegiat sejarah yang dapat mengikuti secara berkelompok dengan jumlah minimal empat orang. Naskah dikirim dalam bentuk soft file melalui Google Drive.

Proses pendaftaran dan seleksi berlangsung hingga 13 Oktober 2026. Sementara pengumuman pemenang dijadwalkan pada 17 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB di panggung Taman Wilhelmina Park.

Para pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai, piala, dan sertifikat. Penilaian dilakukan oleh tiga orang juri, yakni sejarawan dan budayawan Bangka Belitung Dato’ Akhmad Elvian, DPMP., E.C.H., praktisi sastra dan pelestari tradisi lisan Babel Ichsan Mokoginta, serta sastrawan Babel Hazirianjaya atau Ian Sancin.

Ratna mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai ruang bersama dalam menggali dan mengenalkan kembali sejarah Kota Pangkalpinang.

Menurutnya, pengetahuan mengenai perjalanan para pemimpin daerah merupakan bagian penting dari sejarah pembangunan kota yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Mudah-mudahan melalui kegiatan ini sejarah kepemimpinan Kota Pangkalpinang bisa semakin lengkap dan dapat menjadi pengetahuan bagi generasi selanjutnya,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *