PANGKALPINANG, KATABABEL.COM – Usaha kuliner Mimi Bento belakangan menjadi sorotan masyarakat dan warganet. Berawal dari usaha sederhana berupa titipan kue dan menu sarapan rumahan, kini Mimi Bento berkembang pesat dan dikenal luas, tidak hanya di Palembang, tetapi juga hingga berbagai daerah kabupaten bahkan sampai ke wilayah Kepulauan Bangka Belitung.

Popularitas Mimi Bento tidak lepas dari strategi promosi yang kreatif melalui media sosial. Konten-konten yang menampilkan aktivitas jualan, proses menyiapkan makanan, hingga pelayanan cepat kepada pelanggan menjadi daya tarik tersendiri bagi warganet.
Gaya pemasaran yang unik dengan jargon khas “Lejar Approve” turut memperkuat identitas usaha tersebut. Kalimat sederhana itu justru menjadi ciri khas yang mudah diingat masyarakat dan sering muncul dalam berbagai konten promosi di media sosial.

Awalnya, Mimi Bento hanya menjalankan usaha kecil dengan menerima titipan kue serta menyediakan menu sarapan bagi masyarakat sekitar. Namun seiring meningkatnya minat pembeli dan viralnya berbagai konten di media sosial, usaha ini mulai dikenal luas sebagai salah satu kuliner dengan konsep harga terjangkau namun tetap menarik.
Salah satu daya tarik utama Mimi Bento adalah harga makanan yang relatif murah, yakni berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000. Dengan harga tersebut, pembeli sudah bisa menikmati berbagai pilihan menu, mulai dari kue tradisional, aneka camilan, hingga makanan siap santap yang cocok untuk sarapan maupun makan siang.
Konsep harga terjangkau ini terbukti berhasil menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan. Setiap hari, antrean pembeli terlihat memadati lokasi penjualan Mimi Bento. Bahkan tidak jarang makanan yang disediakan habis terjual dalam waktu singkat setelah lapak dibuka.
Fenomena tersebut semakin terasa ketika memasuki bulan Ramadan. Permintaan terhadap berbagai menu yang dijual Mimi Bento meningkat tajam, terutama untuk kebutuhan berbuka puasa.
Banyak warga datang untuk membeli aneka kue, takjil, serta makanan praktis untuk berbuka bersama keluarga. Antusiasme pembeli pun membuat suasana di lokasi penjualan sering dipadati pengunjung sejak sore hari.
“Kalau sudah buka biasanya tidak sampai lama langsung habis. Apalagi di bulan Ramadan, pembeli makin ramai,” ujar salah seorang pelanggan yang rela mengantre untuk mendapatkan makanan dari Mimi Bento.
Dari sisi lokasi usaha, Mimi Bento beroperasi di kawasan Jl. Suka Bangun 2 di Kota Palembang. Tempat ini menjadi pusat aktivitas penjualan sekaligus lokasi utama yang ramai didatangi pelanggan setiap harinya.
Selain penjualan langsung di lokasi, promosi usaha ini juga sangat aktif dilakukan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok. Berbagai konten yang diunggah biasanya memperlihatkan aktivitas jualan, menu baru, hingga interaksi dengan pelanggan yang datang membeli.
Salah satu hal yang membuat Mimi Bento berbeda adalah sistem titip jualan yang memberi kesempatan bagi pelaku usaha rumahan untuk memasarkan produknya. Biasanya, pemilik Mimi Bento terlebih dahulu mereview atau mencicipi makanan yang akan dititipkan untuk dijual di tempat tersebut.
Jika dari segi rasa dan tampilan makanan dinilai sudah layak, sang owner akan memberikan tanda persetujuan dengan kalimat khas “Lejar Approve”. Kalimat tersebut kemudian menjadi penanda bahwa produk tersebut boleh dititipkan dan dijual di gerai Mimi Bento.
Bagi pelaku usaha yang ingin bergabung, biasanya mereka terlebih dahulu menghubungi pihak Mimi Bento melalui pesan WhatsApp, kemudian mengirimkan sample makanan untuk dicoba. Jika dinilai memenuhi standar rasa dan kualitas, maka keesokan harinya produk tersebut sudah bisa mulai dititipkan untuk dijual di gerai Mimi Bento.
Sistem ini membuat Mimi Bento tidak hanya menjadi tempat jual beli makanan, tetapi juga menjadi wadah bagi pelaku usaha kecil untuk memasarkan produk mereka kepada masyarakat luas.
Melihat tingginya minat masyarakat, pengelola Mimi Bento kini mulai mengembangkan usahanya dengan membuka beberapa outlet baru di sejumlah daerah. Langkah ini dilakukan untuk memperluas jangkauan penjualan sekaligus memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Keberhasilan Mimi Bento menjadi contoh bahwa kreativitas dalam pemasaran serta pemanfaatan media sosial dapat mendorong perkembangan usaha kuliner lokal. Dengan strategi promosi yang menarik dan harga yang ramah di kantong, usaha kecil pun mampu berkembang menjadi bisnis yang dikenal luas.
Dari usaha rumahan sederhana, Mimi Bento kini menjelma menjadi salah satu kuliner yang ramai diperbincangkan masyarakat. Tidak hanya populer di Palembang, namanya juga mulai dikenal hingga berbagai kabupaten di Sumatera Selatan bahkan sampai ke Bangka Belitung.
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Mimi Bento akan berkembang menjadi salah satu brand kuliner lokal yang semakin besar dan memiliki jaringan usaha yang lebih luas di wilayah Sumatera.












