PANGKALPINANG, KATABABEL.COM — Inovasi teknologi dari siswa madrasah ibtidaiyah (MI) di Kota Pangkalpinang mendapat perhatian dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pangkalpinang.
Sistem Absensi Elektronik (Digital) yang dikembangkan siswa MIS Tahfizh Khoiru Ummah bahkan direncanakan menjadi pilot project atau proyek percontohan untuk penerapan absensi digital di madrasah di bawah naungan Kemenag Kota Pangkalpinang.
Rencana tersebut disampaikan Kepala Kemenag Kota Pangkalpinang, Firmantasi, saat menerima audiensi Tim Robotik MIS Tahfizh Khoiru Ummah, Senin (21/9/2026).
Audiensi tersebut dilakukan menjelang keberangkatan tim untuk mengikuti FAIRCOS 2026 (Festival Automation Robotic Club Of Sriwijaya) di Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang, pada 24 September 2026.
Firmantasi didampingi Plt. Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kemenag Kota Pangkalpinang, Eyde Tusewijaya. Dalam kesempatan itu, Kepala MIS Tahfizh Khoiru Ummah, Rokayah, memaparkan sejumlah karya siswa di bidang robotik dan teknologi, termasuk sistem absensi digital.
Firmantasi mengapresiasi inovasi tersebut dan menilai karya siswa itu memiliki potensi untuk mendukung digitalisasi madrasah.
Sebagai tindak lanjut, ia meminta Plt. Kasi Penmad untuk mengkaji kemungkinan penerapan sistem absensi tersebut secara lebih luas.
“InsyaAllah, karya absensi digital buatan siswa MIS Tahfizh Khoiru Ummah ini akan dijadikan sebagai pilot project untuk pengembangan sistem absensi elektronik di seluruh sekolah dan madrasah di bawah naungan Kementerian Agama Kota Pangkalpinang,” kata Firmantasi.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi contoh bahwa siswa madrasah juga mampu menghasilkan karya teknologi yang dapat dimanfaatkan secara nyata.
“MasyaAllah Tabarakallah, ini adalah bukti nyata bahwa siswa madrasah mampu berinovasi dan berteknologi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Firmantasi juga memberikan motivasi kepada empat siswa yang akan mengikuti kompetisi FAIRCOS 2026, yakni Muhammad Umar Alfatih, Muhammad Ghazavat Sulaiman Al Qonuni, Muhammad Syahid Arkan A, dan Keven Hafizh.
Ia berpesan agar para siswa tidak hanya berorientasi pada hasil kompetisi, tetapi juga menjadikan perlombaan sebagai ruang untuk memperoleh pengalaman dan membangun kepercayaan diri.
“Teruslah semangat, berani, dan percaya diri. Dalam sebuah kompetisi, yang paling utama bukan hanya soal juara, tapi tentang proses, keberanian untuk tampil, pengalaman, dan mental belajar yang akan menjadi bekal hidup yang sangat berharga bagi ananda semua di masa depan,” pesannya.
Firmantasi juga meminta para siswa membawa nama baik madrasah serta menunjukkan karakter dan akhlak yang baik selama mengikuti kompetisi.
“Semangat bertanding ananda sholeh. Bawa nama baik madrasah, tunjukkan akhlak mulia penghafal Qur’an yang berprestasi dalam teknologi,” sambungnya.
Kepala MIS Tahfizh Khoiru Ummah, Rokayah, menyambut baik rencana Kemenag Pangkalpinang untuk mengkaji penerapan sistem absensi digital tersebut.
Menurutnya, sistem absensi elektronik merupakan salah satu hasil karya siswa yang dikembangkan melalui pembelajaran dan kegiatan robotik di madrasah.
“Kami menyambut baik rencana Kemenag Pangkalpinang untuk mengadopsinya untuk bisa diterapkan di sekolah dan madrasah lainnya. Tentu ini sebagai salah satu wujud dukungan nyata bagi kami,” kata Rokayah.
Ia berharap dukungan dari berbagai pihak dapat terus diberikan sehingga siswa memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
MIS Tahfizh Khoiru Ummah sendiri telah mencatat sejumlah prestasi di bidang teknologi robotik hingga tingkat nasional.
Rokayah menyebut tim robotik madrasah tersebut dua kali mewakili Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan dua kali berturut-turut menembus grand final kompetisi teknologi robotik tingkat nasional.
Pada Kompetisi Sains Siswa Muslim Indonesia (KoSSMI) 2023 dan 2024 yang berlangsung di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, tim robotik MI Tahfizh Khoiru Ummah Pangkalpinang bersaing dengan tim dari sejumlah provinsi, di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Rokayah mengakui perjalanan timnya tidak lepas dari berbagai keterbatasan fasilitas.
“Padahal, untuk bisa lolos saja kita sudah bersyukur. Mengingat secara teknis kita punya banyak keterbatasan dibandingkan dengan daerah lainnya. Mereka punya dukungan laboratorium robotik yang lengkap dengan segala fasilitas yang memadai,” tuturnya.
Menurut Rokayah, pada keikutsertaan pertama, tim Babel bahkan memanfaatkan barang-barang bekas yang dikumpulkan siswa untuk kemudian dimodifikasi dan dirakit menjadi karya robotik.
Keterbatasan tersebut, kata dia, tidak menghalangi siswa untuk terus berkreasi.
“Meski punya banyak keterbatasan, kami tetap optimis siswa punya mental juang yang baik, kreativitas dan terus berinovasi melahirkan karya yang berguna,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan robotik menjadi salah satu sarana untuk mengasah kemampuan siswa sekaligus menumbuhkan minat terhadap sains dan teknologi.(*)








